|
|
home | |||||||||||||||||||||
|
|
Organisasi:
In 1999 JakArt was established as a grass-roots organization. It is entirely manned by volunteers. Uniquely, within the organization titles have little meaning and individuals work where and where they are needed. However, to comply with government regulations the organization has been legally registered as the JakArt Foundation.
Over the years many
people have been involved with JakArt, too many to list them all.
Neocles Nicolas (Mikhail) David René Peter Onno Rubiono van Helsdingen Wijiyanto Mulki Mulyana Sukoco Lina Suhartini
Pendiri:
Ary Sutedja
Neocles Nicolas
(Mikhail) David Anggota Pendiri Komite Pelaksana
Sari Sabda Bhakti
Madjid
René Peter Onno
Rubiono van Helsdingen
Yulia Tri
Hariyantini Bachar
Tantrie Soetjipto Sekretariat:
Kepala
Administrasi, Keuangan dan Akuntansi: Wijiyanto
Biografi: ARY SUTEDJA, pianis. Mendapatkan gelar “Master of Music”-nya di Bidang Seni Pertunjukan Piano di Universitas Towson di Baltimore, Maryland pada tahun 1992 di bawah bimbingan Reynaldo Reyes. Ary berhasil menyelesaikan studinya di Towson dengan predikat “summa cum laude”, dan memperoleh penghargaan “Outstanding Achievement in Music”, Pemenang “The Peggy and the Yale Gordon Foundation Scholarship”, dan pemenang “The Talent Award Competition”. Kemudian melanjutkan gelar sarjananya di St. Petersburg Conservatory, Rusia, di bawah bimbingan Sofia Vakman, Sergey Uryvaey dan Valery Visnesky. Guru-gurunya di Indonesia termasuk Iravati M. Sudiarso. Saat tinggal di Jerman, ia mengikuti tur bersama dengan The Bremen Opera Theatre sebagai pengiring piano di bawah arahan Kapellmeister Gunther Bauernschenk. Ary kemudian kembali ke Indonesia pada tahun 1993. Tahun 1994, Ary bersama teman-temannya Soun Youn Yoon (pemain Oboe dari Korea) dan Sharon Eng (pemain biola dari USA) mendirikan grup musik bernama Nuansa Klasika. Mereka telah mengadakan konser di berbagai negara di: Korea, Indonesia, Thailand, Inggris, Amerika (April 2006 di markas besar PBB di New York), Yunani, Kuwait, dan Australia. Di tahun 1999, bersama suaminya, Mikhail David, Ary mendirikan JakArt, sebuah Festival Seni, Budaya dan Pendidikan yang diadakan setiap tahunnya di kota Jakarta. Di JakArt Ary menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. JakArt festival telah menggelar lebih dari 1000 pertunjukan dan pameran-pameran berkelas dunia sampai pertunjukan-pertunjukan seni yang dilakukan secara spontan oleh para seniman lokal dan mancanegara. Festival ini telah diadakan di lebih dari 300 tempat dan lokasi di dalam dan di luar Jakarta, dari tempat-tempat tertutup hingga tempat umum dan melibatkan lebih dari 1000 sukarelawan yang sangat antusias terhadap JakArt dari seluruh kalangan masyarakat hingga seniman-seniman luar negeri. Pada tahun 2004, JakArt menggelar Festival a la Carte, sebuah festival yang keliling di 15 kota di Jawa dan Bali. Hal serupa juga diselenggarakan oleh JakArt dengan mengelilingi 12 kota di Peloponese (Yunani) dan di Athena dalam rangka Olimpiade Kebudayaan di Athena 2004. JakArt telah didukung oleh UNESCO sejak tahun 2002 dan merupakan salah satu Anggota Pendiri dari “Association of Asian Performing Arts Festival (AAPAF)”. Anggota AAPAF lainnya termasuk Singapore Arts Festival, Shanghai Arts Festival, Hong Kong Arts Festival, Adelaide Arts Festival dan lain-lain. Ary adalah anggota Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003-2006, juga anggota dari Komite National Indonesia untuk Kebudayaan, periode 2002-2004. Saat ini Ary adalah salah satu Anggota Eksekutif AAPAF dan aktif mengadakan pertunjukan solo piano dan musik kamar baik di dalam maupun di luar negeri. Ia tampil di 45 kota di seluruh Indonesia bersama dengan suaminya Mikhail David, Asep Hidayat - Pemain Cello asal Indonesia dan Rene van Helsdingen – Pianis Jazz asal Belanda pada program yang bernama ASAH I & II. Pada Agustus 2008, bersama organisasinya JakArt Ia mengorganir Imajiner Festival dan dihadiri oleh 31 direktur festival dan perwakilannya dari seluruh dunia. Tahun 2010 - 2012, Ia menjabat wakil ketua AAPAF (Asosiasi Festival – festival Seni Pertunjukan se-Asia).
Neocles Nicolas
(Mikhail) David was born in 1960 in West Africa of Cypriot and Greek parents grew up in Europe and studied in North America where he obtained a Bachelor’s in Athropology and Sociology (Simon Fraser University, Vancouver, British Columbia, Canada. Since 1982 Mikhail has been living in Jakarta, Indonesia, dividing his time between Indonesia and Europe. Mikhail’s early visual art works tended towards minimalism shown in a number of solo and collective exhibitions in various countries including Greece, Italy, Canada, Australia, Indonesia…… During the 1990’s Mikhail became interested in installation works and begun creating “atmospheric inter-discipline interactive environments” evoking all of the Five Senses. For this purpose Mikhail created a special “space”, called “The Stage” (1991-1996), which became known as “the vanguard of the avant-garde”, a landmark of the Art Scene of Jakarta hosting over 3,000 local and visiting artists. During that same period Mikhail working with his friends, acclaimed Jazz musicians Luluk Purwanto (Indonesian violinist) and Rene van Helsdingen (Dutch pianist) and Dutch visual artist Art Marcus created a movable multi-purpose inter-disciplinary venue, “The Stage Bus”. Between 1994 and 1997 “ the Stage Bus” appeared in over 350 festivals and events all over Europe and the USA (70 concerts in 45 of the most prestigious Universities of the United States, 2002) and is currently touring Canada (100 concerts in 70 cities). Mikhail is also known as a photographer. His works have been shown in a number of solo and collective exhibitions and have appeared in several news publications, art publications, magazines, brochures, and books. Mikhail also expresses himself through Landscape and Interior Design incorporating sculptures and other visual art works in the environment. Mikhail is married to the internationally acclaimed Indonesian concert pianist / musician Ary Sutedja-David. Together with his wife, Mikhail established the JakArt@ Festivals and Festival a la Carte. Two of his major recent works are “Homage to the Eternal Creativity of The Human Race” (2003) & “All the luggage we carry” (2004). In July 2003 JakArt presented at the National Museum: “Homage to the Eternal Creativity of The Human Race” This unique installation/ exposition was designed as a sketch of atmospheric impressions suggesting the scope and possibilities of Mikhail’s proposal for the creation of a traveling and fully comprehensive chronological Educational Exposition (a traveling museum) of the most important examples of art produced throughout human history around the world, from the cave dweller to the present, in the form of museum replicas in an “atmospheric” context using material from both the Tangible Heritage and Intangible Heritage from around the world. The event, was officiated by the Director General of UNESCO, Mr. Koichiro Matsuura and the Indonesian Minister for Culture and Tourism, Mr. I Gde Ardika. In 2006 he created an Indonesian 100 cities tour concept and performed in 46 cities around Indonesia together with his wife (Indonesian pianist), Indonesian cellist Asep Hidayat and Rene van Helsdingen (piano/jazz) in the program called ASAH I, II & III and They will continue the tour in 45 cities in 2011. In August 2008, His organization JakArt organized the Imaginary Festival (IF) and attended by 31 festival director and representatives from all over the world.
Sari Sabda Bhakti
Madjid Lahir 25 Februari 1962. Dunia teater adalah nafas kehidupannya. Tidak saja piawai sebagai aktris teater, ia juga sering dinobatkan menjadi manajer panggung untuk berbagai pentas yang dipersembahkan Teater Koma. Kepuasannya terpancar ketika menangani kesuksesan JakArt dan berbagai pentas Teater Koma. Dede, panggilan kesayangannya, ingin agar Jakarta menjadi kota seni. Saat ini Ia menjabat sebagai Ketua Bidang Keuangan dan Administrasi Dewan Kesenian Jakarta.
René Peter Onno Rubiono van Helsdingen
was born in
Jakarta, Indonesia on February 25, 1957. His nationality is Dutch. He
studied classical music with Mrs. Komter Loeber in Blaricum, the Netherlands
from 1962 – 1972. Then he studied Jazz music with Terry Trotter and Lazlo
Cser in Los Angeles in 1979. His earliest influences: Oscar Peterson, McCoy
Tyner and Bill Evans. Over the years, René has recorded and produced for
many different labels, such as Virgin, Timeless, WEA, Zebra Acoustic,
Pacific Music, Munich Records and his own label Helsdingen Music. His piano
work is articulate, engaging and always encourages good side men. René
writes most of his repertoire.
Lulusan Universitas pancasila di tahun 1990, dibidang Manajemen Ekonomi. Ia memulai karirnya di industri perbankan pada tahun 1992, mulai dari marketing, dealing room (treasury department), middle office (Risk control department), back office (settlement department), serta operasi perbankan. Ia memegang beberapa sertifikat yang berhubungan dengan pasar uang, manajemen resiko dan manajemen back office dari beberapa lembaga di Indonesia dan lembaga luar negeri seperti IPPM – Indonesia, Institute Banking and Finance Singapore, ACI Institute – Forexindo Indonesia, Money for Wealth Financial Services Indonesia dan Euromoney Training Singapore. Ia memiliki ketertarikan khusus dengan manajemen resiko, dan di tahun 2004 dia memulai keterlibatannya dalam Global Association of Risk Professional sebagai anggota dari Membership Committee, kemudian di tahun 2005 Ia mendedikasikan waktunya sebagai Co Regional Director of Global Association of Risk Professional untuk Indonesia. Di samping aktivitasnya dalam Industri Perbankan dan bergabung bersama dengan profesional lain dalam managemen resiko, sejak tahun 1998 ia juga menghabiskan waktunya untuk mendukung JakArt, suatu Festival seni, Budaya dan Pendidikan, dan ia juga selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan JakArt. Kadang kala ia yang menulis press-release, menterjemahkan dokumen, menangani merchandise dan mendukung di bagian accounting, sebagaimana ia menikmati menjadi sukarelawan di JakArt dan percaya bahwa JakArt akan bisa menstimulasi perkembangan masyarakat.
Tantrie Soetjipto
Pudjiwati Insia M. Effendi Pudjiwati Insia M. Effendi – Piano. Mulai belajar piano pada usia 5 tahun dengan guru-guru dari Belanda, setelah mencapai tingkat lanjut (advance) meneruskan pelajaran dengan Franz Zabo, Yohan Giesen dan Henk te Strake. Pada usia 21 tahun orang tuanya mengirimkannya ke konservatori di Geneva, Swiss dimana ia memenangkan hadiah ke-2 Virtuosity pada saat kelulusannya. Memberikan debut konsernya dengan Orchestre de la Suisse Romande dengan memainkan Concerto de Chopin. Tahun 1960 ia diundang ke Amerika Serikat untuk mengadakan recital piano dan pertunjukan tari Jawa. Perjalanannya diteruskan ke Bucharest di mana dia mendalami piano dengan Prof. Magda Niculau dan Prof. Halmos di Rumania. Kemudian ia mengikuti tugas suaminya di Hongkong di mana ia memberikan resital-resital dan mengiringi penyanyi di Art Centre. Di New York ia belajar dengan Mrs. Nina Isidora dari Manhatan School of Music dan Madam Adele Marcus dari Juliard School of Music. Di Indonesia ia mengadakan konser bersama Radio Symphony Orchestra sebagai solis memainkan Chopin ConcertoNo. 2, Beethoven Concerto No. 4 dan C. Frank Variaton dengan Adidharma sebagai konduktor dan Nusantara Chamber Orchestra dengan konduktor Yazeed Djamin. Tahun 1993 ia mengadakan recital di Perth, Australia dan di tahun yang sama ia bersama kawan-kawannya mendirikan Yayasan Musik Internasional, suatu lembaga non-proft untuk penghargaan dan pengembangan musik sekaligus sebuah sekolah musik untuk memberi pelajaran kepada anak-anak yang berbakat memainkan instrumen. Sampai saat ini ia masih aktf mengajar piano dan mengadakan resital. Ia adalah ketua Yayasan Musik Internasional.
Artiniati Sutedja
Maryam
Ioanna Rea David was born in Egypt. She graduated from Trinity Collage,
Dublin, with degrees B.A. Honors and M.A. in English and French literature,
and followed a course in Child Psychology at the University of London. She
has engaged herself in business, books, journalism, and teaching. She is a
linguist and speaks seven languages. She has traveled widely around the
world and has lived in Egypt, the U.K., Ireland, Cyprus, West Africa,
Greece, and Indonesia.
For more
information:
Kepala Administrasi, Keuangan dan Akuntansi: Wijiyanto Kreatif Disain dan Dokumentasi: Mulki Mulyana Administrasi Umum: Sukoco, Lina Suhartini
|
|
|
|||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||